Mekanisme Kerja Pasar Menurut Islam

Oleh Mustafa Kamal Rokan

SAAT ini sedang terjadi kelangkaan dan mahalnya harga pangan dunia yang terasa berdampak bagi masyarakat luas terutama bagi masyarakat miskin. Akibatnya, inflasi akan menggerus ekonomi dan telah dikeluhkan banyak negara saat ini.

Dalam konteks ekonomi dalam negeri juga tidak akan sunyi dari imbasnya, misalnya terjadi kenaikan harga bahan pokok yang beredar di masyarakat, pasar menjadi tidak menentu, sehingga membuat masyarakat menjadi resah dan mengalami kesulitan. Kondisi ini tentunya dipengaruhi banyak faktor, baik faktor internal dari dalam negeri seperti belum meningkatnya tingkat kesejahteraan rakyat maupun faktor dari luar negeri seperti naiknya harga minyak dunia yang saat ini tengah “menggila” hingga mencapai 118 dolar AS per barel.

Masa Rasulullah

Pasar adalah mekanisme pertukaran barang dan jasa oleh pelaku pasar. Tidak bisa disangkal, pasar merupakan faktor penting dalam sistem perekonomian masyarakat, juga masyarakat pada masa Rasulullah SAW dan masa sahabat. Rasulullah SAW yang notabenya merupakan businessman, demikian juga beberapa sahabat yang dikenal sebagai saudagar, melakukan aktivitas berdagang mengikuti mekanisme pasar yang berjalan saat itu.

Nabi Muhammad SAW sendiri telah terjun langsung dalam kancah pasar sejak berumur 7 tahun hingga dewasa, baik dengan modal sendiri maupun melalui kemitraan (dengan khadijah) dengan sistem mudaharabah atau musyarakah yang merupakan sistem yang lazim saat itu. Artinya bahwa Rasul sendiri merupakan pelaku pasar sejak beliau kecil, sehingga beliau menjadi pemimpin yang arif saat menjadi pimpinan di Madinah yang dapat mengontrol mekanisme pasar yang berjalan.

Pernah pada suatu ketika terjadi kenaikan harga bahan pokok di Madinah yang hampir-hampir tidak terkendali saat itu. Karenanya para sahabat menjadi resah dan meminta kepada Rasulullah untuk mengambil kebijakan untuk menentukan harga (price fixing) , Wahai Rasul, tentukanlah harga untuk kita? Beliau menjawab, Allahlah yang sesungguhnya penentu harga, penahan, pencurah serta pemberi rezki. Aku mengharapkan dapat menemui Tuhanku dimana salah seorang dari kalian tidak menuntutku karena kezaliman dalam hal darah dan harta.

Dalam hadits lain disebutkan bahwa pasar merupakan hukum alam (sunnatullah) yang harus dijunjung tinggi. Pasar bukanlah dibentuk oleh kekuatan yang bersifat individual atau kelompok, namun merupakan kekuatan yang bersifat kolektif dari unsur-unsur pasar itu sendiri. Maka, Islam sangat melarang tindakan monopoli atau oligopoli, yakni jika ada satu atau beberapa orang individu yang mempengaruhi mekanisme pasar sehingga terjadi persaingan usaha tidak sehat serta merugikan konsumen.

Dalam literatur ekonomi Islam terdapat beberapa konsep mengenai mekanisme pasar menurut pandangan Islam diantaranya, Abu Yusuf dalam bukunya Al-Kharaj menyebutkan bahwa mekanisme pasar adalah bekerjanya hukum permintaan dan penawaran pasar dalam menentukan tingkat harga, meskipun dijelaskan bahwa supply and demand disini tidak didefinisikan secara tegas dan rinci.

Prinsip-prinsip

Konsep mekanisme pasar dalam Islam dibangun atas prinsip-prinsip. Pertama, ArRidha, yakni segala transaksi yang dilakukan haruslah atas dasar kerelaan antara masing-masing pihak (freedom contract). Hai orang yang beriman janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku suka sama suka diantara kamu (QS.7:29). Kedua, berdasarkan persaingan sehat (fair competition).

Mekanisme pasar akan terhampat bekerja jika terjadi penimbunan (ihtikar) atau monopoli. Monopoli dapat diartikan, setiap barang yang penahanannya akan membahayakan konsumen atau orang banyak. Ketiga, kejujuran (honesty), kejujuran merupakan pilar yang sangat penting dalam Islam, sebab kejujuran adalah nama lain dari kebenaran itu sendiri (lihat QS. 3:95). Islam melarang tegas melakukan kebohongan dan penipuan dalam bentuk apapun.

Sebab, nilai kebenaran ini akan berdampak langsung kepada para pihak yang melakukan transaksi dalam perdagangan dan masyarakat secara luas. Keempat, keterbukaan (transparancy) serta keadilan (justice). Pelaksanaan prinsip ini adalah transaksi yang dilakukan dituntut untuk berlaku benar dalam pengungkapan kehendak dan keadaan yang sebenarnya.

Penulis adalah dosen Hukum Bisnis Fak. Syariah IAIN Sumatera Utara.

[waspadaonline]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: