Hak Milik dalam Islam

oleh Prof. Dr. Masykuri Abdillah

Allah telah menjadikan manusia sebagai wakilnya (khalifah) di atas bumi. Oleh karenanya, Allah menciptakan semua yang ada di atas bumi ini untuk dimanfaatkan bagi kepentingan umat manusia. Pemberian status ini dilengkapi dengan pemberian pedoman atau petunjuk bagi mereka, agar bisa memperoleh keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat. Petunjuk Allah yang terakhir berbentuk ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.

Atas dasar ini, maka para ulama merumuskan bahwa tujuan umum syari’at Islam adalah untuk mewujudkan kemaslahatan umat manusia dengan memberikan perlindungan dan kecukupan bagi semua hal yang menjadi keniscayaan, kebutuhannya, dan kelengkapannya (tahqîq mashâlih al-nâs bi tawfîr dharûriyyâtihim wa hâjiyyâtihim wa tahsîniyyâtihim). Keniscayaan atau keperluan dasar manusia yang harus diwujudkan dan dijaga eksistensinya adalah agama (ad-dîn), akal (al-‘aql), jiwa (an-nafs), kehormatan (al-‘irdh), dan harta benda (al-mâl).

Dalam hal yang terakhir — yakni tentang harta sebagai bahasan utama dalam khutbah ini — Islam mendukung umatnya untuk memperoleh, memeliharanya, dan membelanjakannya secara benar. Sebaliknya, Islam mencegah tindakan-tindakan yang merusak dan menghilangkan harta benda ini, atau membelanjakannya secara tidak benar. Hak milik pribadi (individu) memang diakui oleh Islam, yang dapat diperoleh melalui tiga bentuk aktivitas ekonomi, yakni:

1.     Melalui pertanian, yang antara lain disebutkan dalam Q.S. ‘Abasa;

2.     Melalui industri, yang antara lain disebutkan dalam Q.S. al-Hadîd: 25;

3.     Melalui perdagangan dan jasa, yang antara lain disebutkan dalam Q.S. Quraisy: 1-4;

Di samping itu, hak milik juga dapat diperoleh melalui warisan atau pemberian dari orang lain.

Memang pada hakikatnya harta itu milik Allah (real and absolute ownership), yang dititipkan kepada manusia (delegated and restricted ownership). Oleh karena itu, pencarian harta atau aktivitas ekonomi harus diniatkan untuk memperoleh karunia dan keridhaan Allah, yang berarti juga harus halal, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

Dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. (Q.S. al-Mulk [67]: 15).

Kepemilikan individu ini akan sangat kondusif bagi upaya untuk mendinamisasikan kehidupan keduniaan (ekonomi) umat, karena hal ini berarti memberikan kebebasan kepada mereka untuk dapat menikmati hasil sesuai dengan jerih payah mereka. Islam pun tidak membatasi pemilikan individu ini selama tidak menjadikan seseorang lupa kepada Allah, termasuk kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan-Nya berkaitan dengan pemilikan harta ini.

Sejalan dengan pengakuan hak individu tersebut, Islam mengakui adanya ketidaksamaan pemilikan harta di antara mereka, sebagaimana firman Allah:

ِKami telah menentukan ekonomi mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah melebihkan sebagian mereka atas lainnya beberapa tingkat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan lainnya. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (az-Zukhruf [43]: 32)

Pengakuan akan hak milik individu tersebut diimbangi dengan kewajiban dalam bentuk kewajiban zakat serta anjuran (sunnah) infak dan sedekah bagi orang yang mampu. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan kesenjangan ekonomi yang besar antara orang kaya dan orang miskin. Upaya pemerataan harus dilaksanakan oleh umat Islam, baik secara individual maupun secara kolektif, yang dilakukan oleh kelompok atau negara. Allah menegaskan dalam firman-Nya:

Hai orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. (al-Baqarah [2]: 267).

…. agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang yang kaya saja di antara kamu. (al-Hasyr [59]: 7).

Islam mencela orang egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak memiliki solidaritas sosial. Orang yang demikian ini tidak mau mendermakan sebagian dari kekayaannya kepada orang yang membutuhkan bantuan, seperti anak yatim dan fakir miskin, sebagaimana firman Allah:

Tahukah kamu orang yang mendustakan agama ? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin (Q.S. al-Mâ’ûn [107]: 1-3).

Namun, upaya mewujudkan pemerataan tersebut sebenarnya tidak hanya bersifat karitatif, melainkan yang lebih penting adalah adanya kebijakan negara yang membela kepentingan masyarakat bawah (lemah). Dengan kata lain, upaya pemerataan yang paling efektif adalah penciptaan sistem dan kebijakan ekonomi suatu negara yang mendukung pemerataan (income distribution) ini.

Dengan demikian, Islam sangat mendorong prinsip saling membantu dan bekerjasama. Hal ini didasarkan karena manusia pada dasarnya bersaudara, yakni sama-sama sebagai anak keturunan Nabi Adam As. Di samping itu, manusia adalah mahluk sosial, yang berarti ia saling membutuhkan antara satu sama lainnya, karena ia tidak bisa mencukupi semua kebutuhannya sendiri. Firman Allah menyebutkan:

Tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran. Dan, bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (al-Mâidah [5]: 2).

Ayat tersebut mengandung pengertian bahwa penggunaan harta itu tidak dibenarkan untuk membantu kemaksiatan dan permusuhan di antara sesama manusia, misalnya untuk pembangunan tempat-tempat perzinaan dan perjudian, serta permusuhan terhadap kelompok lain yang tidak disukai, dan sebagainya.

Di samping itu, harta juga tidak diperbolehkan dipergunakan untuk hal-hal yang tidak berguna. Hal ini dalam Islam disebut sebagai mubadzir. Allah menegaskan dalam firman-Nya:

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga dekat hak mereka, juga kepada orang miskin  dan orang dalam perjalanan. Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara mubadzir. Sesungguhnya orang-orang yang mempergunakan harta meraka secara mubadzir itu adalah saudara-saudara syetan, dan syetan itu sangat ingkar kepada Tuhannya. (al-Isrâ’ [17]: 26-27).

Bârakallâhu lî wa lakum
Sumber :
Disunting dari Buletin Jumat Masjid Agung At-Tin, Vol. 147, 20 September 2008, yang ditulis oleh Prof. Dr. Masykuri Abdillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: