Gunakan Dinar-Dirham, Lepaskan Belenggu Kapitalisme

WAWANCARA DR. UGI SUHARTO: MENGGUNAKAN DINAR-DIRHAM DAPAT LEPASKAN KETERGANTUNGAN DARI AS

Hampir seluruh negara dalam transaksi kerjasama, jual beli, maupun hutang piutang menggunakan dolar Amerika Serikat (AS). Akibatnya AS secara politik-ekonomi mampu mengusai ekonomi dan politik negara-negara yang selama ini dianggap sebagai negara sahabat, termasuk Indonesia. Giliran selanjutnya, AS menghegemoni negara-negara sahabatnya itu, terutama negara-negara Muslim.

Penggunaan dolar AS bukannya membuat negara-negara Muslim untung, tapi buntung. Sebut saja misalnya, Indonesia. Tiap detik mata uang rupiah dapat dikendalikan oleh para pengambil kebijakan pemerintah AS; politisi dan konglomeratnya. Akibatnya dapat kita rasakan saat ini. Contohnya, harga minyak mentah dan BBM bisa mereka atur seenaknya.

Karena itu, untuk menghadapi masalah ini perlu langkah dan terobosan guna melepaskan hegemoni AS. Salah satunya adalah dengan menggunakan mata uang dinar-dirham. Ide ini telah digulirkan Meneg BUMN Sugiharto. Lalu bagaimana peluang mata uang yang pernah dipakai Nabi saw. ini? Kepada eramuslim, pakar Ekonomi Islam dari Interntional Islamic University Malaysia (IIUM) Dr. Ugi Suharto menguraikan masa depan dan keistimewaan dinar dan dirham. Berikut petikannya:

Bagaimana pendapat Anda dengan usulan Meneg BUMN Sugiharto agar negaa-negara Asean memakai mata uang dinar-dirham dalam bertransaksi?

Ini suatu ide yang bagus. Karena, dengan menggunakan mata uang dinar dan dirham maka kita tidak akan bergantung lagi dengan dolar Amerika Serikat (AS). Kalau dolar dan lainnya itu fiat money (uang kosong). Sebenarnya fiat money itu tidak mempunyai nilai fix. Ia cuma ada nilai nominal saja, dan nilainya itu ditentukan oleh pemerintah. Jadi banyak unsur politiknya daripada keasliannya. Tapi kalau kita menggunakan dinar (emas) atau dirham (perak) itu memang asli sesuai dengan nilai harganya. Dan itu akan lebih stabil dibandingkan dengan uang fiat. Mahathir sendiri mendukung itu.

Apakah negara-negara Asean akan sepakat dengan penggunaan dinar dan dirham dalam transaksi biliteral/multilateral di antara mereka? Pasalnya hanya Malaysia dan Indonesia saja yang siap.

Kalau sudah ada dua negara yang menggunakan dinar-dirham, maka dua negara itu sudah bisa melakukan transaksi. Misalnya, Indonesia dengan Malaysia. Dengan begitu kita tidak perlu pakai dolar lagi. Itu lebih mudah, tidak perlu dulu dengan banyak negara. Dulu sudah ada rencana Malaysia dengan Iran. Kalau Pak Sugiharto menggagas ini, itu baik sekali dan bisa kerjasama dengan Malaysia.

Implikasi politik dan ekonominya apa ketika dinar-dirham dipakai hanya oleh dua negara?

Ya memang begini, kalau dinar-dirham dipakai oleh dua negara maka fungsi sentral Bank Indonesia agak berkurang. Sebab kalau kita menggunakan fiat money, seluruh masalah keuangan masih ada di Bank Indonesia. Jadi, itu saja implikasinya. Tapi insya Allah soal stabilitas, kondisinya akan lebih stabil. Khususnya kalau banyak negara yang begitu (menggunakan dinar-dirham) maka tidak bergantung dengan dollar, atau juga tidak bergantung euro.

Dengan penggunaan dinar-dirham, apakah rupiah sebaiknya tetap dipakai atau bagaimana?

Untuk sementara ini masih bisa. Karena kita masih berdagang dengan negara-negara lain yang tidak menggunakan dinar-dirham. Jadi dinar-dirham ini kita gunakan dengan negara-negara yang sudah sepakat.

Apakah dengan menggunakan dinar-dirham bisa menekan dollar AS yang selama ini menghegemoni transaksi internasional?

Seandainya pemakai dinar-dirham semakin banyak, misal antara negara Muslim, mereka setuju semua dengan penggunaan dinar, itu semakin bagus. Maka mau tidak mau mereka akan membeli minyak kita dengan dinar. Beli minyak di Arab dengan dinar. Dengan sendirinya kekuatan AS makin lemah. Jelas itu ada implikasi yang baik buat dunia Islam.

Di negara-negara Timur Tengah (Arab) sendiri juga belum menerapkan mata uang ini?

Belum memang. Harus digalakkan, ya semua negara Arab. Ini semua harus dari kita. Malaysia, dan Iran juga sudah setuju. Kita mulai dari negara-negara yang sepakat dulu, baru kelihatan hasilnya maka akan diikuti negara-negara lain. Ide ini sebenarnya bukan ide baru. Penggunaan emas sebagai mata uang itu dimulai tahun 1970. Ini sebenaranya sistem universal yang pernah berlaku pada zaman Nabi saw..

Bagaimana gambaran negara-negara Muslim yang sudah menggunkan dinar-dirham?

Di antaranya Malaysia. IDB (Islamic Development Bank) kemungkinan juga sudah pakai dinar. IDB sudah membuka dan memprakarsai itu. Itu baru ditingkat wacana. Jadi beberapa negara. Mungkin berinisiatif begitu kendati sedikit. Tapi kita harus memulai dari yang sedikit itu.

Kalau dalam konteks Indonesia, apa kendalanya?

Ini kembali kepada mindset kita. Itu soal ketidakpercayaan begitu. Karena belum ada yang memulai jadi kita takut memulai. Tapi sebenarnya kita bisa memulai dengan Malaysia. Malaysia itu di antara penggagas pertamanya. Karena itu kita harus mendekati Malaysia untuk kerjasama. Jadi eksport-impor kita dengan Malaysia sudah bisa dengan dinar.

Ketika kita menggunakan dinar-dirham, apa ada kesulitan dalam infrastruktur perbankannya?

Tidak ada. Sama saja seperti emas.

Tapi sayang ya pihak DPR kita tak begitu peduli dengan ide besar ini?

Iya lah. Karena kita ini kebanyakan isu.

Artinya wacana penggunaan dinar-dirham belum popular atau menarik bagi mereka?

Iya wacana ini belum populer di Indonesia. Karena itu harus kita populerkan. Emas itu punya kekuatan sendiri. Ia nature, alami. Berbeda dengan uang kertas, uang Rp 100 ribu, kertas itu sendiri harganya paling 50 perak. Tapi kalau dinar itu sama antara nilai nominal dengan nilai intrinsiknya. Kalau satu dinar sama dengan 2, 25 gram, maka nilainya sama dengan harga jual emas 2,25 gram emas.

Artinya dinar-dirham tak kenal dengan inflasi atau devaluasi ya?

Tidak. Cukup stabil. Bisa inflasi kalau ditemukan tambang emas besar-besaran. Tapi itu tidak lazim.

Jadi dengan menggunakan dinar-dirham, kita juga betransaksi BBM dengan negara-negara Barat akan lebih aman, dong?

Iya. Sekarang yang jadi masalah, mau tidak negara-nagara Barat bermu’amalah dengan dinar-dirham. Sebenarnya kalau negara-negara Islam, negara-negara OPEC mau memaksa Barat, itu bisa. Tapi soal harga diri kita, soal idealisme kita. Harus dimulai, dan Indonesia harus mengambil peran di masa mendatang membantu mensosialisasikan penggunaan ekonomi Islam. Uni Eropa membuat Euro, sebenarnya juga masih fiat money.

Saat ini apa sudah ada negara Barat yang bertransaksi dengan dinar-dirham?

Itu tergantung kitanya. Sekarang masalahnya soal kepercayaan saja. Kita lebih percaya pada dinar atau dolar. Kalau kita berani bersikeras, Ok, barang saya ini harus dan hanya bisa dibeli dengan dinar, maka mau tak mau mereka akan memakai dinar.

Jadi harus ada policy atau politik seperti itu ya?

Iya. Harus ada keberanian memang. Kalau tidak begitu, kita bisa memulai dengan negara-negara yang sepakat memakai dinar. (dina).

Sumber: eramuslim

Lebih lanjut aplikasi dinar-dirham di www.dinarku.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: