Masjid dan Pasar (bagian-3, terakhir)

4. Mengatur Perantara perdagangan

Perdagangan tidak bisa lepas dari dari perantara yang masuk di antara penjual dan pembeli. Perantara pedagang dibutuhkan karenya banyaknya barang dan jasa, banyak jenisnya, meluasnya wilayah perdagangan dan kesulitan hubungan langsung antara berbagai pihak.

Di samping mengetahui pentingnya perantara perdagangan, membiarkannya tanpa aturan bisa menyebabkan adanya penyalahgunaan dari tugas sebenarnya dan menjadi cara untuk menipu dan monopoli.

Selanjutnya …

Hal ini bisa merusak persaingan, maka harga tidak stabil sesuai persediaan dan permintaan barang, akan tetapi terjadi kesewenang-wenangan dari beberapa pedagang perantara yang menyebabkan naiknya harga.

Umar memerintahkan untuk melaksanakan pesan Nabi Saw, “Dan janganlah orang yang tahu menjual kepada orang yan tidak tahu”. Umar memerintahkan untuk menunjukkan para pedagang dari orang Badui ke pasar, memberitahukan mereka jalan menuju pasar, agar dia mengetahui dengan sempurna keadaan pasar dan harga-harga dan mereka bisa sampai ke pasar serta menjual barang dagangannya sesuai kehendaknya.

Umar ra berkata, “Tunjukkan mereka ke pasar, tunjukkan mereka jalan dan beritahu mereka tentang harga”. (Muhammad Abdul Mun’im Afar, al-Iqtishad al-Islami 2/231)

5. Mengawasi Harga

Umar ra memiliki perhatian yang besar dalam mengikuti perkembangan harga dan mengawasinya. Ketika datang utusan kepadanya, maka beliau bertanya tentang keadaan mereka dan harga-harga pada mereka. (Shaluhuddin Namiq, An-Nuzhum al-Iqtishadiyah al-Mu’ashirah wa Thatbiqatuha, hal. 370)

Islam menganggap kenaikkan harga sebagai suatu musibah atau bencana yang turun karena dosa manusia. Hal ini terjadi ketika harga-harga naik pada masa Rasulullah Saw dan umat Islam datang kepada beliau untuk menentukan harga.

Maka Rasulullah Saw bersabda, “Tetapi aku berdoa…”. (Al-Azhim Abadi, Aun al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud 9/250). Artinya aku menghadap Allah agar menghilangkan mahalnya harga dan meluaskan rizki”. (HR Abu Dawud, TIrmidzi, dan Ibnu Majah).

6. Pengawasan Barang yang Diimpor dan Mengambil ‘Usyur (pajak) 10%

Umar telah menunjuk muhtasib (pengawas pasar). Di antara tugasnya adalah mengawasi barang yang diimpor oleh orang-orang kafir, maka mereka mengambil ‘usyur (pajak sepersepuluh/10%) dari barang tersebut dengan tingkatan yang berbeda sesuai pentingnya barang tersebut dan kebutuhan umat Islam kepadanya. ‘Usyur itu diwajibkan bagi orang kafir, bukan untuk kaum muslimin!

Jadi, pembangunan Pasar Islam sama pentingnya dengan membangun masjid. Perlakuannya pun hampir sama yaitu tidak boleh mengambil untung/sewa dari kaum muslimin yang ingin memanfaatkannya. Sumber biaya operasional Pasar Islam sama dengan Masjid yaitu dari wakaf, infaq dan shadaqah.

Dengan membangun Pasar Islam, jangan takut untuk tidak bisa memenuhi biaya operasional pasar. Keberkahan Insya Allah akan tumbuh di Pasar Islam karena setiap pedagang diwajibkan memahami hukum riba dan fiqih dagang serta adanya pengawasan dari muhtasib (pengawas pasar). Insya Allah Pasar Islam bisa menyuburkan sedekah dan mematikan riba. (oleh: Ust Thorik bin Djured)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: