Masjid dan Pasar (bagian-2)

Hisbah (Pengawasan) terhadap Pasar

Tujuan dari kekuasaan atas pasar pada masa Umar adalah menjalankan pengawasan pasar untuk menjamin kebenaran transaksi dari setiap penyimpangan dari jalan yang benar dan mengambil harta yang harus diambil dari pasar untuk kebaikan baitul mal seperti zakat, wakaf, infaq dan shadaqah. Ini artinya kekuasaan pasar sangat penting untuk menjaga hak-hak semua yang bertransaksi di pasar, juga hak-hak baitul mal.

Secara umum, tujuan dasar pengaturan pasar adalah mewujudkan kebaikan semua orang yang bertransaksi di pasar yaitu penjual dan pembeli. Sebagaimana pengaturan tersebut ditujukan untuk memerangi segala sesuatu yang menghalangi kebebasan bertransaksi di pasar yang bisa membuat umat terzalimi.

Berikut ini detail tujuan terpenting dari pengawasan pasar dan aturan transaksi di dalamnya : (Ath-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk 5/17-18, Ibnul Atsir, Al-Kamil 2/374)

1. Kebebasan Keluar Masuk Pasar

Kebebasan transaksi dan adanya persaingan sempurna di pasar Islam tidak akan terwujud selama halangan-halangan tidak dihilangkan dari orang-orang yang melakukan transaksi di pasar Islam. Maka mereka masuk dan keluar pasar dengan bebas, juga diberikan kebebasan mengangkut barang dari satu tempat ke tempat yang lain.

Agar pasar tetap terbuka bagi semua orang yang bertransaksi di dalamnya, maka Umar ra tidak memperbolehkan untuk membatasi setiap tempat di pasar atau menguasai tempat tanpa memberi yang lain tetapi membiarkan orang memilih tempatnya di pasar semula dia masih berjual beli. Apabila dia sudah selesai maka tempat tersebut untuk siapa saja yang lebih dahulu datang.

Umar melarang klaim tempat/kios di pasar menjadi milik pribadi tertentu maka ketika Umar melihat kios/lapak yang dibangun oleh seseorang di pasar maka Umar merubuhkannya. (Ath-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk 5/220)

Berbeda dengan zaman kegelapan sekarang ini, setiap lapak ini dimiliki oleh pribadi tertentu dan diperjualbelikan sehingga orang lain tidak bisa memanfaatkannya (inilah pasar riba dan monopoli). Hanya orang yang mempunyai uang saja yang bisa masuk pasar, sedangkan orang miskin/lemah tidak bisa masuk pasar.

Umar tidak mengizinkan bagi seseorang untuk menghalangi gerak manusia dengan mempersempit jalan mereka ke pasar dan memukul orang yang melakukannya dengan tongkat sambil berkata, “Enyahlah dari jalan!”. (Al-Fakihi, Akhbar Makkah 3/245-247, Ibnu Hajar, Fathul Bari 3/526-527)

Kita lihat hari ini, sudah menjadi pemandangan sehari-hari, para pedagang kecil yang dikejar-kejar dan digusur dari pinggir jalan. Mereka tidak bisa masuk pasar karena tidak punya hak sedangkan dagang di pinggir jalan pun digusur pula. Apakah ini yang disebut pasar bebas?

Jadi, pasar bebas yang didengung-dengungkan sekarang ini adalah sebuah bualan belaka karena sebetulnya adalah pasar tertutup alias pasar riba dan monopoli. Kalau memang pasar bebas, apakah setiap orang bisa bebas masuk pasar? Apakah pedagang kecil bisa ikutan?

Dalam Islam, pasar itu sedekah bagi kaum muslimin, makanya dalam Pasar Islam, setiap orang bisa memanfaatkan lapak/kios yang tersedia dengan sistem seperti di masjid yaitu “siapa yang duluan dia yang akan mendapatkan kios/lapak yang diinginkan”.

2. Mengawasi Cara Penawaran Para Pedagang

Umar ra dalam pengawasan pasar adalah menunjukkan para pedagang tentang cara-cara menawarkan barang dagangan (promosi) yang menyebabkan lakunya dagangan mereka. Umar membolehkan menawarkan barang dengan dengan cara yang menarik dan menghiasinya dengan syarat dibangun di atas kejujuran.

Dengan kata lain, tidak boleh melewati batas kebenaran dalam menyebutkan dagangannya. Adapun selama ada dalam ruang kebenaran maka tidak ada larangan untuk memamerkannya dengan indah dan menghiasinya dengan hal yang bisa menarik para pembeli.

Umar ra berkata, “Tidak masalah bila kamu menghiasi barang daganganmu sesuai apa yang ada padanya”. (Muhammad Abdul Mun’im Afar & Muhammad bin Said Nahi al-Ghamidi, Ushul al-Iqtishad al-Islami, hal. 242)

3. Larangan Menimbun Barang

Penimbunan barang adalah halangan terbesar dalam pengaturan persaingan dalam pasar Islam. Hal tersebut dikarenakan pengaruhnya terhadap jumlah barang yang tersedia dari barang yang ditimbun, di mana beberapa pedagang memilih untuk menahan barang dagangannya dan tidak menjualnya karena menunggu harga naik.

Perilaku menimbun barang ini menzalimi manusia, maka Umar menghadapinya dengan tegas dan keras, untuk selanjutnya melarang para penimbun barang berdagang di Pasar Islam. Umar ra berkata, “Janganlah menjual di pasar kami seorang penimbun barang!”. (Jaribah bin Ahmad al-Haritsi, Al-Fiqh al-Iqtishadi, li Amiril Mu’minin Umar bin Khaththab)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: